<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> 
  <rss version="2.0"><channel> 
				<title>RSS Mari Mengaji - Jadwal kajian Sunnah</title> 
				<description>isyrafdakwi.my.id merupakan media online yang mempublikasikan jadwal kajian rutin islam ilmiah</description>
				<link>https://isyrafdakwi.my.id/</link> 
				<language>id-id</language><item>
						                <title>Ketika Kesempatan Beramal Itu Datang, Sudahkah Tubuhmu Siap?</title>
						                <link>https://isyrafdakwi.my.id/berita/detail/ketika-kesempatan-beramal-itu-datang-sudahkah-tubuhmu-siap</link>
						                <description>Pernahkah kita membayangkan, jika suatu hari Allah memberi kita kesempatan untuk melakukan amal yang membutuhkan kekuatan fisik, apakah tubuh kita sudah cukup siap?Sementara itu, mungkin hari ini tubuh kita mulai terasa berat. Perut mulai membuncit, naik tangga mudah terengah-engah, dan aktivitas yang dahulu ringan mulai terasa melelahkan.Bukan untuk mencela diri, tetapi untuk mengingatkan bahwa kesehatan adalah nikmat yang perlu kita syukuri dan jaga.Hari ini kita masih bisa berjalan, berolahraga, bekerja, dan beraktivitas dengan kuat. Maka jangan sia-siakan nikmat tersebut.Olahraga, menjaga pola makan, mengurangi makan berlebihan, tidur yang cukup, dan melatih kebugaran bukan sekadar agar tubuh terlihat bagus.Tubuh ini adalah amanah.Jagalah agar tetap kuat untuk shalat, menuntut ilmu, membantu keluarga, melayani orang lain, dan melakukan berbagai amal kebaikan yang Allah bukakan.Semoga ketika kesempatan untuk beramal datang, hati kita siap dan tubuh kita pun mampu mengikutinya.</description>
					                </item><item>
						                <title>Mencintai Guru, Menjaga Hati</title>
						                <link>https://isyrafdakwi.my.id/berita/detail/mencintai-guru-menjaga-hati</link>
						                <description>Mengikuti akun media sosial seorang ustadz tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, kita tetap perlu bijak dalam menyikapinya.Media sosial membuat kita bisa mengenal seseorang dari berbagai sisi. Semakin banyak yang kita lihat, terkadang semakin banyak pula hal pribadi yang kita ketahui.Tanpa disadari, apa yang awalnya hanya ingin mengikuti ilmu, bisa berubah menjadi terlalu banyak memperhatikan kehidupan pribadi. Dari sana, terkadang muncul komentar, prasangka, bahkan pembicaraan tentang sesuatu yang tidak perlu kita bicarakan.Akhirnya, kita terjatuh dalam ghibah, sementara yang sedang kita bicarakan adalah seorang guru yang sebelumnya kita hormati.Begitu pula dalam kehidupan nyata. Kita bisa mencintai, menghormati, dan mengambil manfaat dari seorang guru tanpa harus terlalu jauh masuk ke dalam kehidupan pribadinya.Ada kalanya menjaga jarak bukan berarti tidak menghormati. Justru terkadang, menjaga batas membantu kita tetap melihat seorang guru dengan husnuzan dan mengambil manfaat dari ilmunya dengan lebih baik.Dalam menuntut ilmu, jangan pula merasa cukup hanya dengan satu sosok.Kita tidak harus selalu mencari ilmu dari mereka yang sering kita jumpai di media sosial. Banyak guru dan ustadz yang mungkin tidak banyak dikenal di dunia maya, namun memiliki ilmu yang bermanfaat dan telah lama mengajarkannya kepada masyarakat.Popularitas bukan satu-satunya ukuran keilmuan.Maka, cintailah guru, hormati mereka, ambil manfaat dari ilmu yang disampaikan, namun tetap jagalah hati dan lisan.Jangan sampai terlalu banyak mengetahui sisi pribadi seseorang membuat kita kehilangan rasa hormat, terjatuh dalam ghibah, atau bahkan meninggalkan ilmu yang sebenarnya bermanfaat.Semoga Allah menjaga hati dan lisan kita, memberikan kita ilmu yang bermanfaat, menjauhkan kita dari ghibah dan prasangka buruk, serta menunjukkan kepada kita kebenaran sebagai kebenaran dan memberikan kita taufik untuk mengikutinya.Ya Allah, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, berilah manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.Aamiin.</description>
					                </item><item>
						                <title>100 tahun dari sekarang, di mana kita?</title>
						                <link>https://isyrafdakwi.my.id/berita/detail/100-tahun-dari-sekarang-di-mana-kita</link>
						                <description>100 tahun lagi, kita semuanya mungkin sudah berada di dalam tanah, dan kita akan tahu bagaimana nasib kita yang sebenarnya.Kemudian rumah kita akan ditempati oleh orang-orang asing yang sebelumnya tidak kita kenal. Pekerjaan kita sudah digantikan oleh orang lain. Harta kita akan dimiliki orang lain. Kalaupun oleh keluarga kita, mereka pun tidak akan banyak mengingat kita.Seperti halnya kita tidak lagi mengingat bapak dari kakek kita. Demikian juga kita akan dilupakan. Kita hanya sekadar satu tulisan yang ada dalam ingatan sebagian orang: pernah dengar, pernah kenal.Maka nama-nama kita, bentuk kita, akan tertutup dengan lipatan-lipatan kelupaan. Jangankan 100 tahun, saudara kita yang baru meninggal beberapa hari, pekan atau bulan saja sudah mulai kita lupakan.Semua ini tidak ada faedahnya setelah 100 tahun. Wujud kita di dunia ini hanya sebentar.Akan segera sirna dan selesai dalam sekejap mata. Akan datang puluhan, bahkan ratusan generasi setelah kita, dan setiap generasi akan berpisah dengan dunia, seperti kita yang bahkan belum sempat mewujudkan seperempat impian kita.Oleh karena itu, kita mesti mengerti betul bagaimana ukuran kita di dunia ini. Waktu dan umur kita hanya sedikit, bahkan lebih kecil dari yang kita bayangkan.Nanti di sana, setelah 100 tahun, di tengah kegelapan, kita baru sadar bahwa semuanya yang kita kumpulkan di dunia ini tidak ada gunanya. Semua hanya impian yang konyol dan rendahan.Dan akhirnya kita baru sadar, seandainya semua waktu kita digunakan untuk hal yang baik dan amalan jariyah.Dan akan ada sebagian kita di alam sana yang berteriak minta tolong dan kesakitan dalam penderitaan, namun teriakan tersebut tidak ada faedahnya.Firman Allah:“Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.”“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.”(QS. Al-Mu’minun: 99–100)Oleh karenanya, karena kesempatan masih ada di depanmu, maka beramal salehlah. Perbaiki dirimu.Ingatlah, dunia akan sirna. Dan ingatlah, amal saleh itulah yang tersisa di hari saat engkau dihisab di hadapan Allah.Jadikan duniamu sebagai jembatan yang menggiringmu ke surga Allah.Jangan sampai dunia membuat kamu lalai dari akhirat.</description>
					                </item><item>
						                <title>Dulu sudah Cukup, Kenapa Sekarang Terasa Kurang?</title>
						                <link>https://isyrafdakwi.my.id/berita/detail/dulu-sudah-cukup-kenapa-sekarang-terasa-kurang</link>
						                <description>Awalnya, semua yang kita miliki terasa begitu berharga.Motor terasa bagus. Smartphone terasa canggih. Rumah terasa nyaman. Bahkan istri yang Allah karuniakan kepada kita terasa sebagai nikmat yang sangat besar.Kita bersyukur dan berkata, “Alhamdulillah, sudah punya ini.”Namun setelah sering melihat kehidupan orang lain yang memiliki lebih, perlahan standar kita berubah.Motor sendiri mulai terlihat butut. Smartphone terasa ketinggalan. Rumah terasa kurang bagus.Bahkan apalagi, istri sendiri pun bisa terasa kurang, hanya karena melihat orang lain memiliki lebih dari satu istri.Padahal yang berubah bukan motor kita. Bukan smartphone kita. Bukan rumah kita. Dan bukan pula istri kita.Yang berubah adalah cara pandang kita karena terlalu sering membandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang dimiliki orang lain.Islam tidak melarang seseorang memiliki keinginan untuk mendapatkan yang lebih baik. Tetapi jangan sampai mata yang terlalu sering melihat milik orang lain membuat hati tidak lagi mampu melihat nikmat yang ada di tangan sendiri.Sebab jika standar kepuasan selalu mengikuti kehidupan orang lain, maka tidak akan pernah selesai.Hari ini merasa kurang karena motor. Besok karena mobil. Hari ini karena smartphone. Besok karena rumah. Bahkan dalam urusan keluarga pun bisa muncul rasa kurang.Padahal bisa jadi, apa yang kita anggap biasa hari ini adalah sesuatu yang dahulu kita mohonkan kepada Allah dalam doa-doa kita.Maka bersyukurlah.Bukan berarti berhenti berusaha menjadi lebih baik, tetapi jangan sampai dalam mengejar sesuatu yang belum kita miliki, kita justru meremehkan nikmat yang sudah Allah titipkan.Jangan sampai sibuk menghitung apa yang dimiliki orang lain, sampai lupa menghitung begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita.</description>
					                </item><item>
						                <title>Di Balik Mudahnya Dakwah, Ada Banyak Pengorbanan</title>
						                <link>https://isyrafdakwi.my.id/berita/detail/di-balik-mudahnya-dakwah-ada-banyak-pengorbanan</link>
						                <description>Kita sering menikmati dakwah dengan begitu mudah. Tinggal membuka ponsel, kita bisa mendengarkan kajian. Tinggal membuka aplikasi, kita bisa membaca ilmu. Tinggal datang ke masjid, kita bisa duduk di majelis dan mendengarkan nasihat.Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: apa yang dibutuhkan agar semua itu bisa sampai kepada kita?Karena di balik mudahnya kita mendapatkan ilmu, ada orang-orang yang mengorbankan harta, waktu, tenaga, bahkan meninggalkan keluarga mereka demi tersampaikannya dakwah.Kami mengenal seorang ustadz yang juga memiliki keahlian di bidang IT. Beliau mengembangkan sebuah aplikasi dakwah secara mandiri yang membutuhkan biaya operasional lebih dari 20 juta rupiah setiap bulannya. Beliau juga membangun sekolah gratis sekaligus menanggung gaji para pengajarnya. Semua itu beliau biayai dari uang pribadinya.Ada pula aplikasi yang mungkin tidak asing bagi kita, yaitu HijrahAPP. Sebagian besar dari kita mungkin mengetahui, atau setidaknya bisa membayangkan, berapa biaya yang dibutuhkan setiap bulannya agar sebuah aplikasi dakwah tetap berjalan dan bisa dimanfaatkan oleh banyak orang.Bukan hanya itu. Seorang ustadz yang datang ke suatu tempat untuk menyampaikan kajian pun membutuhkan pengorbanan yang tak kalah besar. Ada biaya perjalanan, bahan bakar, waktu, dan berbagai kebutuhan lainnya. Beliau juga meninggalkan anak dan istri untuk menghadiri majelis dan menyampaikan ilmu. Bahkan, tidak sedikit ustadz yang ketika diberikan uang transportasi atau bentuk pemberian lainnya justru menolaknya karena tidak ingin mengambilnya.Di balik sebuah kajian, aplikasi, sekolah sunnah, buku, atau berbagai sarana dakwah lainnya, ada harta, waktu, tenaga, dan keahlian yang dikorbankan.Karena itu, berdakwah dan berkontribusilah sesuai dengan kemampuan yang Allah berikan kepada kita.Ada yang Allah mudahkan dengan hartanya, sehingga mampu membangun sekolah sunnah gratis. Ada yang Allah mudahkan dengan ilmunya, sehingga bisa mengajarkan ilmu. Ada yang Allah mudahkan dengan keahliannya, sehingga bisa membuat aplikasi atau membantu dari sisi teknis. Ada pula yang Allah mudahkan dengan tenaga dan waktunya.Kemampuan kita berbeda-beda, tetapi semuanya bisa menjadi jalan kebaikan.Jika Allah memberikan harta, gunakan sebagian untuk dakwah. Jika Allah memberikan ilmu, ajarkan. Jika Allah memberikan keahlian, manfaatkan. Jika Allah memberikan tenaga dan waktu, berikan untuk membantu.Jangan hanya menikmati dakwah yang sudah tersedia, tanpa menyadari bahwa ada orang-orang yang telah mencurahkan harta, waktu, tenaga, dan pikirannya agar dakwah itu sampai kepada kita.Bisa jadi, dakwah yang hari ini terasa mudah kita nikmati, berdiri di atas pengorbanan orang lain yang tidak pernah kita lihat.Semoga Allah membalas setiap pengorbanan para da'i, ustadz, guru, dan seluruh orang yang berkhidmat untuk dakwah dengan sebaik-baik balasan. Semoga Allah menerima amal mereka, memberkahi harta dan waktu mereka, menjaga keluarga mereka, serta menjadikan setiap ilmu yang tersebar melalui usaha mereka sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.</description>
					                </item><item>
						                <title>HIJRAH - Dulu Ghibah Teman, Kini Ghibah Ustadz</title>
						                <link>https://isyrafdakwi.my.id/berita/detail/hijrah--dulu-ghibah-teman-kini-ghibah-ustadz</link>
						                <description>Dulu sebelum hijrah, kita meninggalkan media sosial karena banyak pertemanan dan percakapan yang sudah tidak sesuai dengan jalan yang sedang kita tempuh. Ada ghibah, candaan yang tidak bermanfaat, dan berbagai hal yang ingin kita tinggalkan.Beberapa tahun kemudian, kita kembali.Kali ini kita lebih selektif. Pertemanan kita filter. Kita memilih orang-orang yang sudah ngaji, para penuntut ilmu, dan orang-orang yang kita anggap satu jalan. Kita berharap timeline dipenuhi nasihat, faedah, dan pengingat tentang akhirat.Namun ternyata kita cukup terkejut.Ghibah ternyata masih ada. Hanya objeknya yang berubah.Dulu yang dibicarakan adalah teman, tetangga, atau orang biasa. Setelah mengenal agama, yang dibicarakan bisa jadi ustadz, penuntut ilmu, atau saudara yang dianggap berbeda.Bahkan yang lebih mengkhawatirkan, setelah mengenal agama seseorang terkadang menjadi lebih pandai mencari alasan untuk membicarakan orang lain. Ghibah bisa dibungkus dengan istilah nasihat, klarifikasi, bantahan, atau membela kebenaran.Maka ini menjadi nasihat untuk diri sendiri.Hijrah bukan hanya tentang siapa yang kita tinggalkan dan siapa yang kita ikuti. Hijrah juga tentang apa yang berubah dalam hati, lisan, dan akhlak kita.Jangan sampai kita meninggalkan lingkungan yang buruk, tetapi tanpa sadar membawa penyakit yang sama ke lingkungan yang baru.Jangan sampai kita sibuk melihat kesalahan orang lain, sementara kita lupa bahwa diri kita sendiri masih penuh kekurangan.Semoga Allah memperbaiki diri kita, menunjukkan kepada kita aib-aib diri kita sendiri, memberi kita taufik untuk memperbaikinya, dan menjaga lisan serta tulisan kita dari sesuatu yang kelak kita sesali di hadapan-Nya.</description>
					                </item><item>
						                <title>Mengikuti Sunnah atau Mengikuti Tren?</title>
						                <link>https://isyrafdakwi.my.id/berita/detail/mengikuti-sunnah-atau-mengikuti-tren</link>
						                <description>Dulu, memakai celana cingkrang dianggap aneh. Tidak sedikit yang mencemooh, bahkan ketika disampaikan bahwa itu bagian dari sunnah, mereka tidak terlalu peduli. Memelihara jenggot pun demikian. Karena belum menjadi sesuatu yang umum, maka dianggap asing.Namun ketika model yang serupa kemudian populer di kalangan orang-orang kafir, tiba-tiba banyak yang menyukainya. Yang dahulu dianggap aneh, sekarang dianggap keren. Yang dahulu dicemooh, kini justru diikuti.Dari sini kita belajar, bahwa penilaian manusia sering berubah mengikuti tren, sedangkan kebenaran tidak berubah mengikuti selera manusia.Jangan mencintai sunnah karena ia sedang populer, dan jangan meninggalkannya hanya karena dianggap asing. Kita mengikuti sunnah karena ia adalah sunnah, bukan karena banyak orang menyukainya.Sebab sesuatu yang hari ini dianggap aneh, bisa jadi suatu saat menjadi tren. Tetapi sunnah tetaplah sunnah, baik ketika manusia menerimanya maupun ketika mereka mencemoohnya.Jangan menunggu sunnah menjadi tren untuk kemudian kita mencintainya.</description>
					                </item><item>
						                <title>Yang Jauh Begitu Rindu, Yang Dekat Justru Lalai</title>
						                <link>https://isyrafdakwi.my.id/berita/detail/yang-jauh-begitu-rindu-yang-dekat-justru-lalai</link>
						                <description>Kita sering kali baru menyadari betapa berharga dan berartinya sebuah nikmat setelah nikmat itu hilang dari diri kita.Pernah suatu ketika kami menghadiri majelis ilmu rutin di sebuah daerah pelosok. MasyaAllah, semangat ikhwah di sana untuk menghadiri majelis ilmu begitu luar biasa.Bahkan mereka datang menggunakan Bus Sago kepala kapsul, satu bus penuh, hanya untuk menghadiri kajian rutin.Bukan tabligh akbar, Bukan kajian ustadz terkenal, Hanya majelis ilmu rutin.Namun mereka tetap bersemangat untuk datang.Sementara kita yang tinggal di daerah yang begitu mudah menemukan majelis ilmu, masjid yang dekat, ustadz yang mengisi kajian, dan jadwal kajian yang rutin, terkadang justru merasa berat untuk melangkahkan kaki.Di sana, mungkin mereka harus menempuh perjalanan yang jauh untuk mendapatkan ilmu.Sedangkan kita, terkadang hanya perlu berjalan beberapa menit, tetapi masih saja mencari alasan untuk tidak hadir.Jika ingin mengetahui betapa besarnya nikmat duduk di taman-taman surga, di rumah Allah, dan menghadiri majelis ilmu, tanyakanlah kepada saudara-saudara kita yang berada di daerah yang sangat jarang memiliki kesempatan seperti itu.Bisa jadi, apa yang kita anggap biasa hari ini adalah sesuatu yang sangat mereka rindukan.Maka jangan sampai kita baru menyadari besarnya sebuah nikmat setelah Allah mencabutnya dari kita.Karena bisa jadi, bencana yang lebih besar daripada bencana galodo adalah ketika Allah menjadikan hati kita berat dan diri kita malas menghadiri majelis ilmu, sementara di tempat lain ada saudara kita yang begitu merindukan satu majelis, tetapi tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkannya.Selama Allah masih memberikan kita kesempatan, jangan sia-siakan nikmat itu. Datangilah majelis ilmu, sebelum suatu hari kesempatan itu tidak lagi kita miliki.</description>
					                </item><item>
						                <title>Dia Rupawan, Istrinya cantik, Hartanya banyak, anak-anaknya pun banyak, tapi...</title>
						                <link>https://isyrafdakwi.my.id/berita/detail/dia-rupawan-istrinya-cantik-hartanya-banyak-anakanaknya-pun-banyak-tapi</link>
						                <description>Abu Lahab itu dikenal sebagai seorang yang rupawan. Istrinya pun cantik, bahkan digelari Ummu Jamil. Hartanya banyak, anak-anaknya pun banyak.Jika ketampanan, kecantikan, harta yang melimpah, dan banyaknya anak adalah ukuran cinta Allah kepada seorang hamba, tentu Abu Lahab adalah orang yang sangat dicintai Allah.Namun Allah justru berfirman:“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang ia usahakan.”(QS. Al-Masad: 1–2)Maka jangan jadikan harta, anak, pasangan yang cantik, rumah yang bagus, jabatan, atau kehidupan yang nyaman sebagai ukuran bahwa Allah sedang memuliakan dan mencintai kita.Semua itu bisa menjadi nikmat, tetapi juga bisa menjadi ujian.Ukuran kemuliaan seorang hamba bukanlah apa yang ia miliki, tetapi iman, ketakwaan, dan ketaatannya kepada Allah.Karena boleh jadi seseorang hidup dalam kelapangan, tetapi jauh dari Allah. Dan boleh jadi seseorang hidup sederhana, namun sangat dekat dan dicintai Allah.Yang perlu kita khawatirkan bukan: “Seberapa banyak yang Allah berikan kepadaku?”Tetapi:“Untuk apa semua yang Allah berikan kepadaku?”</description>
					                </item><item>
						                <title>Guru Kecil yang Mengajarkan Kita untuk Lebih Banyak Belajar dan Bersabar</title>
						                <link>https://isyrafdakwi.my.id/berita/detail/guru-kecil-yang-mengajarkan-kita-untuk-lebih-banyak-belajar-dan-bersabar</link>
						                <description>Sering sekali kita dibuat kaget dengan perilaku anak-anak kita.Sejak kecil mereka kita didik dengan kalimat-kalimat thayyibah, dibiasakan berkata baik, diajarkan adab dan akhlak. Namun setelah masuk sekolah dan mulai bergaul dengan lingkungan yang lebih luas, terkadang apa yang telah kita tanamkan seakan mulai hilang.Apa yang sebelumnya kita ajarkan di rumah, perlahan berubah karena pengaruh lingkungan dan teman-temannya. Bahkan terkadang kita melihat perilaku yang berbanding terbalik dengan apa yang selama ini kita ajarkan.Namun, mungkin di sanalah letak ujiannya.Kita tidak mungkin selamanya menjaga anak dari semua pengaruh di luar rumah. Mau tidak mau, mereka juga harus belajar bersosialisasi, berinteraksi, dan menghadapi berbagai karakter manusia.Tugas kita bukan hanya menjaga mereka dari lingkungan yang buruk, tetapi juga membekali mereka agar mampu menghadapi lingkungan tersebut.Dan mungkin, bukan hanya anak kita yang harus terus belajar. Kitalah sebagai orang tua yang harus belajar lebih banyak dan lebih banyak bersabar.Belajar memahami perubahan mereka. Belajar menghadapi setiap fase pertumbuhan mereka. Belajar bagaimana menasihati tanpa membuat mereka menjauh. Belajar mendengarkan sebelum menghakimi. Dan belajar untuk terus membimbing, meskipun hasilnya tidak selalu terlihat dengan cepat.Jangan mudah menyerah ketika melihat perubahan pada anak.Teruslah menanamkan kebaikan. Teruslah mengingatkan. Teruslah mendoakan. Karena bisa jadi, apa yang hari ini tampak hilang sebenarnya belum benar-benar hilang. Ia sedang diuji oleh lingkungan, dan kelak apa yang kita tanam sejak kecil akan kembali tumbuh pada waktunya.Mendidik anak bukan hanya tentang bagaimana mengubah mereka menjadi baik, tetapi juga tentang bagaimana Allah mendidik kita melalui mereka agar menjadi orang tua yang lebih sabar, lebih bijaksana, dan terus memperbaiki diri.Maka, ketika anak berubah, jangan menyerah. Barangkali saat itulah kita justru sedang diuji untuk belajar lebih banyak dan bersabar lebih panjang.</description>
					                </item></channel>
  	</rss>